Di masa kini Data Center, AI (Artificial Inteligent) sudah semakin canggih. Hampir semua orang terutama pelajar pasti pernah menggunakan AI dalam kehidupan sehari hari, seperti mencari ide, mengerjakan tugas, atau sekedar menanyakan solusi. Hanya dari menulis promt (intruksi) sederhana, AI dapat membuat gambar, presentasi, video singkat, rangkuman materi, hingga aplikasi. Semua itu bisa kita dapatkan hanya dengan mengetik perintah dan AI akan membuatkan dalam beberapa detik.
Setiap kali kita mengetik perintah kepada AI, ternyata ada air bersih yang terpakai untuk mendinginkan data center (komputer raksasa). Data center merupakan Gudang raksasa yang isinya ribuan lemari berisi server komputer yang bekerja 24 jam nonstop untuk menyimpan semua data aktivitas kita di internet di pusat data. Karena masifnya penggunaan AI maka dibutuhkan lebih banyak pusat data. Rencana Pembangunan data center di Kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta memang bagus untuk kemajuan teknologi di Indonesia, tetapi jika proyek ini tidak dikelola dengan benar, proyek ini akan menyedot air bersih yang biasanya dipakai untuk kebutuhan warga sekitar. Apalagi Waduk Jatiluhur juga merupakan salah satu penyumbang sumber air bersih di daerah Jakarta.
Komputer jika terus menerus menyala, maka mesin yang ada di dalamnya pasti akan panas, oleh karena itu dibutuhkan alat pendingin agar suhu komputer tetap stabil. Jika mesin komputer mengalami overheat, maka komputer bisa terbakar dan semua data akan hilang. Data center juga demikian, karena data center bekerja lebih berat, maka mesin yang ada di dalamnya akan lebih mudah panas, jadi dibutuhkan pendingin agar data center tersebut tetap beroperasi dengan lancar. Kipas atau AC mungkin dapat mendinginkan komputer rumahan, tetapi untuk sekelas pusat data, kipas sangat tidak efisien untuk mendinginkan suatu bangunan besar. Maka dipilihlah air sebagai alat untuk mendinginkan pusat data. Menurut artikel yang berjudul Myths vs. Reality: Data Centers And Water Usage, Sebagian besar pusat data modern yang besar menggunakan pendinginan berbasis air untuk efisiensi energi yang lebih baik . Ini sering melibatkan menara pendingin atau pendingin evaporatif : air hangat menyerap panas dari server dan kemudian didinginkan melalui penguapan di dalam menara. Saat air menguap ke udara, ia membawa pergi panas — secara dramatis mengurangi daya listrik yang dibutuhkan untuk pendinginan. Kelemahannya adalah konsumsi air yang tinggi . Sebagian besar pusat data besar saat ini menggunakan beberapa bentuk pendinginan evaporatif karena hemat energi , terutama di iklim panas, tetapi secara langsung menggunakan air (seringkali diambil dari pasokan kota), (Florida Water and Pollution Control Operators Association (FWPCOA), 2026).
Walaupun sistem pendingin evaporatif tersebut dapat menghemat lebih banyak listrik, namun sebenarnya proses tersebut tidak 100% ideal, karena uap yang di kondensasi di menara pendingin tersebut kebanyakan terbuang Bersama udara panas. Meskipun terdapat sistem pendingin di dalamnya, pusat data tersebut tetap membutuhkan pasokan air bersih terus menerus. Menurut laporan dari artikel yang berjudul “Data Centers and Water Consumption”, Pusat data besar dapat mengonsumsi hingga 5 juta galon air per hari , setara dengan penggunaan air sebuah kota dengan populasi 10.000 hingga 50.000 orang. Menurut para ilmuwan di Universitas California, Riverside, setiap perintah AI yang terdiri dari 100 kata diperkirakan menggunakan sekitar satu botol air (atau 519 mili liter). Ini mungkin terdengar tidak banyak, tetapi miliaran pengguna AI di seluruh dunia memasukkan perintah ke dalam sistem seperti ChatGPT setiap menitnya, (Environmental and Energy Study Institute (EESI), 2025).
Meskipun data center tersebut belum dibangun, kita bisa belajar dari kasus kasus yang sudah terjadi. Contohnya di negara Georgia, Amerika Serikat. Masyarakat disana melaporkan bahwa mereka mulai mengalami krisis air bersih saat Meta mendirikan data center disana. Beverly dan Jeff Morris, yang tinggal kurang dari 100 kaki dari pusat data Meta di Stanton Springs, Georgia, termasuk di antara empat keluarga yang mengajukan gugatan terhadap raksasa teknologi tersebut pada bulan Agustus, dengan klaim bahwa sedimen menumpuk di sumur mereka dan tekanan air menurun setelah konstruksi dimulai, sehingga air keran menjadi tidak layak minum. Perselisihan serupa juga terjadi di Louisa County, Virginia, kurang dari 500 mil di utara keluarga-keluarga di Georgia.Pusat data Amazon terletak tepat di seberang rumah Austin Newsom, yang mengklaim bahwa tak lama setelah pembangunan dimulai pada Maret 2025, air keran di rumahnya mulai berwarna cokelat, sementara mesin berat dan peralatan penggalian yang digunakan di lokasi tersebut menyebabkan getaran hebat, yang meretakkan dinding rumahnya, “AI data centers spur growing environmental concerns amid muddy water, noise pollution”, (Anadolu Ajansi, 2026)
Lembaga Riset dan Penyedia Indeks Global mencatat bahwa kebutuhan air untuk data center di seluruh dunia diperkirakan akan melonjak hingga 1,2 triliun liter per tahun pada 2030. (MSCI, 2025). Di Jatiluhur sendiri, proyek data center AI BDx yang akan dibangun mempunyai kapasitas sangat besar, yaitu 640 Megawatt, yang artinya butuh jutaan liter air tiap harinya kalau pakai pendingin biasa. Menurut Laporan dari artikel Nature Fordward, Pusat data bisa menghasilkan beberapa jenis polutan ke dalam sistem air. Polutan ini terbagi menjadi tiga kategori utama:
Biocide: bahan kimia untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur, dan alga dalam sistem pendingin, dan ini adalah polutan yang paling umum di sistem air pusat data.
Inhibitor korosi: bahan kimia yang mencegah korosi di dalam sistem pendingin.
Logam berat: logam seperti tembaga, seng, dan timbal, yang bisa masuk ke air dalam jumlah sedikit saat komponen logam mengalami degradasi. Laporan tersebut menjelaskan bahwa air sisa dari sistem pendingin tidak bisa dibuang sembarangan karena mengandung bahan kimia berbahaya, seperti zat anti-bakteri atau anti-jamur dan potensi logam berat yang terakumulasi selama proses pendinginan. (Nature Fordward, 2026).
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) memang penting untuk kemajuan zaman. Kasus rencana pembangunan data center di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, membuktikan bahwa teknologi digital yang terlihat sepele ternyata memerlukan sumber daya alam yang sangat nyata di dunia fisik, terutama air bersih. Pemerintah perlu mempertimbangkan dan mencari Solusi agar data center ini bisa tetap berjalan tanpa menggunakan air bersih. Karena Waduk Jatiluhur memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan banyak orang, mulai dari air minum rumah tangga, pengairan sawah untuk petani, hingga sumber energi listrik. Jika data center terus menerus mengambil air dari kawasan ini secara berlebihan tanpa pengawasan yang ketat, hal tersebut dikhawatirkan dapat memicu krisis air bersih bagi warga sekitar.
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.