Setiap kali musim kemarau tiba, berita tentang Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hampir selalu menghiasi media. Masalah ini seolah menjadi “rutinitas tahunan” yang tak kunjung usai, terutama di daerah yang punya banyak lahan gambut seperti Sumatra dan Kalimantan. Lalu, apa sebenarnya penyebabnya, seberapa berbahaya dampaknya, dan apa yang harus dilakukan pemerintah?
Latar Belakang: Kenapa Karhutla Terus Berulang?
Banyak yang mengira Karhutla murni bencana alam karena cuaca panas. Padahal, cuaca panas dan kemarau panjang (seperti fenomena El Nio) hanyalah pemantik yang membuat lahan jadi sangat kering dan gampang terbakar. Penyebab utamanya justru berasal dari ulah manusia:
Cara Buka Lahan yang Murah: Banyak pihak atau oknum yang sengaja membakar hutan/lahan untuk membuka kebun baru karena cara ini dinilai paling murah dan cepat dibanding menggunakan alat berat. Mengingat saat ini menggunakan alat berat seperti ekskavator atau buldoser membutuhkan biaya sewa, bahan bakar, dan perawatan yang mahal. Sebaliknya, membakar lahan hanya membutuhkan korek api atau sedikit bahan bakar cair dengan biaya yang jauh lebih murah. Juga dapat melenyapkan semak belukar, pepohonan, dan sisa-sisa tanaman dalam waktu singkat tanpa perlu mengolah tanah secara manual serta abu hasil pembakaran mengandung unsur hara yang dapat menurunkan tingkat keasaman tanah secara instan, sehingga tanah siap ditanami tanpa perlu banyak pupuk pada awal masa tanam. Dampaknya meski menguntungkan secara finansial bagi pelaku, tindakan ini memicu risiko kerugian ekologis dan sosial yang jauh lebih besar karena api dari pembakaran skala kecil sangat mudah melompat dan meluas akibat terpaan angin.
Kondisi Lahan Gambut: Lahan gambut itu sama seperti spons. Kalau basah dia menyimpan air, tapi kalau kering saat kemarau gambut sangat mudah terbakar. Parahnya api di lahan gambut bisa menjalar dibawah tanah tanpa kelihatan dari luar. Fenomena Api Bawah Tanah (Ground Fire),kebakaran di lahan gambut tidak hanya membakar pepohonan di permukaan tetapi juga merayap ke dalam lapisan tanah yang tebal (bisa mencapai kedalaman beberapa meter) sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan karena api menjalar di bawah tanah, permukaan atas mungkin hanya terlihat mengeluarkan asap tipis padahal di bawahnya membara api yang besar. Pemadaman membutuhkan jutaan liter air hingga tanah benar-benar basah sampai ke dasar, sehingga pemadaman dari udara (water bombing) sering kali kurang efektif.
Masalah Sengketa Tanah: Kadang lahan sengaja dibakar karena ada perebutan hak kepemilikan tanah antar pihak. Hal ini merupakan taktik klaim wilayah, dalam beberapa kasus konflik pertanahan, pembakaran sengaja dilakukan oleh pihak tertentu untuk menandai atau menguasai lahan secara sepihak, sekaligus mengusir pengguna lahan sebelumnya serta menghilangkan jejak batas dan vegetasi dimana membakar lahan digunakan sebagai cara cepat untuk merusak bukti batas wilayah adat, hutan lindung, atau konsesi perusahaan, sehingga memudahkan proses sertifikasi atau legalisasi tanah ilegal di kemudian hari.
Dampak Karhutla yang dirasakan bersama, Karhutla bukan cuma soal pohon atau hutan yang terbakar, tapi efeknya meretas ke mana-mana dan merugikan banyak orang seperti:
- Dampak Kesehatan & Kehidupan Sehari-hari
Banjir Penyakit Pernapasan (ISPA): Kabut asap tebal membawa debu halus dan racun yang dihirup warga. Akibatnya banyak anak-anak, balita, dan lansia terkena batuk, sesak napas (ISPA), hingga iritasi mata, dan beberapa kasus terdapat Ibu hamil yang mengalami keguguran kandungan.
Beberapa aktivitas terhenti seperti sekolah harus diliburkan, penerbangan ditunda akibat atau dibatalkan karena jarak pandang yang pendek, dan warga tidak bisa beraktivitas normal di luar rumah. Lumpuhnya sektor transportasi. Jarak pandang (visibility) yang melorot drastis hingga di bawah 100 meter sering kali memicu penundaan (delay) dan pembatalan massal penerbangan, mengganggu jalur pelayaran sungai/laut, serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas darat dan masyarakat terisolasi. Warga terpaksa membatasi seluruh aktivitas di luar ruangan, menciptakan suasana “kota mati” di daerah-daerah yang terpapar kabut asap terparah. Dapat dilihat dari beberapa pemberitaan di Media Sosial saat ini keadaan terparah di 2 (dua) Provinsi, yakni Kalimantan dan Sumatera Selatan.
- Dampak Lingkungan & Alam
Hancurnya habitat satwa langka spesies terancam punah seperti Orangutan, Harimau Sumatra, Gajah Sumatra, dan Burung Enggang. Sehingga konflik satwa dan manusia tidak dapat dihindari, karena rumah habitat satwa langka hancur dan rantai makanan terputus, banyak satwa liar yang mati terbakar sedangkan yang selamat terpaksa mengungsi dan masuk ke pemukiman warga untuk mencari makan sehingga memicu konflik baru. Dan musnahnya flora endemic seperti jenis kayu komersial, tanaman obat tradisional, dan vegetasi khas gambut berangsur angsur mati.
Pemanasan Global juga terjadi akibat lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar. Saat terbakar karbon itu terlepas ke udara dan membuat bumi makin panas (perubahan iklim).
- Dampak Ekonomi
Rugi Secara Finansial dapat dilihat dari sektor usaha dan dagang terhenti, pasar, toko, restoran, dan industri pariwisata mengalami penurunan omset secara drastis karena sepinya pembeli dan penghentian kunjungan wisatawan. Juga kerusakan sektor pertanian dan perkebunan dimana kebakaran sering menyebar menembus batas kebun warga. Tanaman produktif seperti kelapa sawit, karet, dan komoditas pangan hancur, membuat petani kehilangan sumber mata pencaharian utama selama bertahun-tahun dan penurunan produktivitas kerja, banyak pekerja yang tidak bisa melaut atau mengolah kebun karena kondisi fisik yang menurun akibat terpapar asap atau terpaksa merawat keluarga yang sakit.
Pembengkakan biaya pemadaman dan kesehatan, dapat dilihat dari Beban Anggaran Negara (APBN/APBD) dimana pemerintah harus menggelontorkan dana darurat hingga triliunan rupiah untuk operasi pemadaman (seperti sewa helikopter water bombing, teknologi modifikasi cuaca/hujan buatan, dan penyiapan posko bencana). Serta lonjakan biaya medis seperti pengeluaran masyarakat dan beban klaim asuransi/BPJS Kesehatan melonjak tinggi untuk membiayai rawat inap, pembelian obat-obatan, pembersih udara (air purifier), serta masker khusus N95.